(PDF) IBM PENGRAJIN SEPATU DAN SANDAL KULIT Produksi Sendal Sepatu
Allow, bebas sore, pada kali ini akan dibahas atas produksi sendal sepatu (PDF) IBM PENGRAJIN SEPATU DAN SANDAL KULIT menyimak memerhatikan selengkapnya
Kegiatan IbM ini bertujuan buat membantu dua blok pengrajin sepatu di babakan Pandanlandung dan Sukodadi kecamatan Wagir tercantol kendala dalam meningkatkan kemampuan produksinya serta di meningkatkan derajat produk, kemasan dari produk, bersama pelayanan atas klien belah komoditas yang menebak dihasilkan. Metode yang ditawarkan untuk melebihi permasalahan blok upaya mitra ialah sebagai beserta (1) Pelatihan manajemen pabrikasi sepatu jangat yang berkualitas; (2) Pelatihan penggunaan gawai bantuan derma berupa alat perkakas jahit lawai besar juki, alat seset sepatu, serta alat press sepatu dan sandal; (3) Pelatihan dengan pendampingan pembuatan buntelan sepatu dan sandal yang menarik; (4) Pelatihan display produk dengan bantuan etalase; (5) Pelatihan administrasi moneter yang baik bertimbal standar UKM; (6) Pelatihan tadbir pemasaran; (7) Pelatihan dan pembuatan corong alat advertensi online. Hasil aplikasi membuktikan bahwa aktivitas menduga tercapai bertimbal agenda dengan kena respon yang afirmatif dari mitra aksi Ipteks alokasi Masyarakat ini. Kegiatan ini juga boleh melepaskan dampak yang absolut akan kelanjutan upaya pabrikasi kasut dengan sepatu dari kedua mitra.
Kata kunci: IbM; pengrajin sepatu; kelompen kulit. JPM (Jurnal Pemberdayaan Masyarakat) ISSN : 25411977 E- ISSN : 25411977 Vol. 2 No. 2 2017 http://ejournal.unikama.ac.id/index.php/jpm 166 IBM PENGRAJIN SEPATU DAN SANDAL KULIT Uun Muhaji1, Irma Tyasari2 Universitas Kanjuruhan Malang1,2 uun.muhaji@gmail.com1, irmatyasari@gmail.com2 Abstract The objective of this community service agenda was to help two groups of shoe makers in Pandanlandung and Sukodadi village in Wagir districts which were struggling to improve their production capacity, product quality, packaging, and customer service. During the implementation of this program, the method offered to help overcoming those problems was by conducting: (1) a workshop on a quality shoe production management; (2) a workshop on utilizing granted shoe production machineries which done after the handover of the machineries; (3) a workshop on producing decent shoes and sandals packaging; (4) a workshop on product displaying which done after the handover of the product displays; (5) a workshop on Small to Medium Enterprise’s standardized money management; (6) a workshop on marketing management; and (7) a workshop on online promotion media. The result of this community service acara showed that the planned help-offerings were conducted on shcedule, the responses were positive, and the impact on the shoe prodcuction was also positive. Keywords: community service program; shoemakers; leather sandals. Abstrak Kegiatan IbM ini bertujuan untuk membantu dua blok pengrajin sepatu di desa Pandanlandung dan Sukodadi kecamatan Wagir terkait kendala dalam meningkatkan kemampuan produksinya serta dalam meningkatkan kualitas produk, kemasan dari produk, serta pelayanan terhadap konsumen bagi produk yang telah dihasilkan. Metode yang ditawarkan untuk mengatasi permasalahan kelompok usaha mitra merupakan sebagai berikut (1) Pelatihan manajemen produksi sepatu kulit yang berkualitas; (2) Pelatihan penggunaan alat bantuan hibah berupa mesin jahit benang besar juki, mesin seset sepatu, serta mesin press sepatu dan sandal; (3) Pelatihan dan pendampingan pembuatan kemasan sepatu dan sandal yang menarik; (4) Pelatihan display barang dengan bantuan etalase; (5) Pelatihan manajemen keuangan yang baik bertemu standar UKM; (6) Pelatihan tadbir pemasaran; (7) Pelatihan dan pembuatan media sarana promosi online. Hasil pelaksanaan menunjukkan bahwa kegiatan telah kesampaian sesuai acara dengan beroleh respon yang absolut dari mitra kegiatan Ipteks bagi Masyarakat ini. Kegiatan ini juga boleh memberikan dampak yang afirmatif terhadap perkembangan upaya pabrikasi kelompen dan sepatu dari kedua mitra. Kata kunci: IbM; pengrajin sepatu; sandal kulit. JPM (Jurnal Pemberdayaan Masyarakat) ISSN : 25411977 E- ISSN : 25411977 Vol. 2 No. 2 2017 http://ejournal.unikama.ac.id/index.php/jpm 167 A. PENDAHULUAN Wagir merupakan salah satu kecamatan yang terletak di Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur. Kecamatan Wagir terwalak pada bagian tengah lor kabupaten Malang dan berbatasan langsung dengan empat kecamatan, Kota Malang, dan kabupaten Blitar. Pada sebelah utara, berbatasan dengan kecamatan DAU, sedangkan pada sebelah timur berbatasan dengan Kota Malang. Pada bagian selatan, Wagir berbatasan dengan kecamatan Pakisaji, kecamatan Ngajum, dan kecamatan Wonosari. Kondisi ini menjadikan kecamatan Wagir sebagai wilayah yang memiliki posisi cukup strategis yang ditandai dengan semakin ramainya jalur transportasi yang melewati kecamatan Wagir baik jalur transportasi lor maupun selatan. Posisi koordinat kecamatan Wagir berada ala 112,5406 Bujur Timur dan 112,6112 Bujur Barat dan antara 8,0301 Lintang selatan dan 1,9702 Lintang selatan. Pada kecamatan Wagir, terdapat 12 babakan dengan dua desa diantaranya yaitu desa Sukodadi dan desa Pandanlandung (Badan Pusat Statistik Kabupaten Malang, 2016). Mata penghidupan penduduk banat Sukodadi dan desa Pandanlandung cukup beragam yaitu petani, pedagang, buruh, serta pengrajin industri kecil dan menengah. Dari beberapa jenis mata pencaharian penduduk tersebut, khususnya dari pengrajin industri kecil dan menengah, terdapat potensi yang sangat menjanjikan dari desa Sukodadi dan desa Pandanlandung yaitu dengan adanya pengrajin sepatu dan sandal kulit pada kedua desa tersebut. Produk kerajinan sepatu dan sandal kulit tersebut telah masuk sebagai salah satu produk unggulan dari kecamatan Wagir. Perlu diketahui bahwa diantara kedua belas babakan yang ada di kecamatan Wagir, hanya babakan Sukodadi dengan banat Pandanlandung yang memiliki pengrajin sepatu kulit sehingga potensi ini masih sangat bisa bersaing dan masih sangat perlu untuk dikembangkan. Produk sepatu dan sandal kulit dari pengrajin ala kedua desa tersebut juga sudah cukup dikenal dan mulai ada pelanggan baik dari wilayah Malang dan sekitarnya maupun dari luar wilayah Malang. Adapun pengrajin sepatu dan sandal kulit pada desa Pandanlandung adalah aba Suparmin, sebaliknya pada desa Sukodadi dusun Jamuran pengrajin sepatu dan sandal kulit adalah bapak Meseno. Gambar 1. Suasana ruang. Gambar 1. Pengerjaan barang sepatu dan kasut kulit Gambar 2. Produk sepatu dan kasut kulit yang dihasilkan akibat pengrajin Terlepas dari telah berjalannya usaha produksi sepatu dan sandal kulit tersebut, serta telah masuknya produk kerajinan ini sebagai potensi unggulan yang dimiliki oleh kedua desa, masih terdapat kendala yang dihadapi oleh para pengrajin tersebut dalam meningkatkan kemampuan produksinya serta dalam meningkatkan kualitas produk, kemasan JPM (Jurnal Pemberdayaan Masyarakat) ISSN : 25411977 E- ISSN : 25411977 Vol. 2 No. 2 2017 http://ejournal.unikama.ac.id/index.php/jpm 168 dari produk, serta pelayanan terhadap konsumen bagi produk yang telah dihasilkan. Kedua pengrajin, yaitu bapak Suparmin dan bapak Meseno, dari kedua desa tersebut memiliki kendala dalam hal meningkatkan kemampuan produksi serta kualitas produk yang dihasilkan yang dikarenakan oleh sangat minimnya peralatan penunjang pembuatan sandal dan sepatu kulit yang dimiliki. Pengerjaan pada proses produksi masih bersifat manual dengan peralatan yang masih sangat terbatas dan masih merupakan peralatan yang dibuat sendiri oleh pengrajin. Hal ini mengakibatkan pengrajin mengalami kesulitan untuk berkembang dan meningkatkan hasil produksi. Kedua pengrajin sangat membutuhkan peralatan penunjang produksi berupa mesin jahit benang besar juki, alat seset sepatu, serta mesin press sepatu dengan sandal. Selain hal tersebut diatas, kedua pengrajin juga mengalami kendala dalam meningkatkan kualitas kemasan produk yang dihasilkan. Dikarenakan minimnya sumberdaya yang dimiliki, ala saat ini produk yang dihasilkan hanya dikemas dengan sangat sederhana dan tidak menarik. Padahal kemasan barang yang menarik akan berdampak sangat positif pada kesan yang ditimbulkan bagi konsumen. Produk yang dikemas secara apik dan menarik akan menambah minat dari konsumen untuk membeli produk tersebut dan akan menimbulkan kepuasan tersendiri ala era membelinya. Kedua pengrajin membutuhkan bantuan dalam desain kemasan yang menarik serta sumberdaya keuangan untuk mewujudkan kemasan yang atraktif tersebut. Lebih jauh lagi, tidak hanya kedua hal tersebut diatas yang menjadi kendala, namun juga dari aspek pelayanan terhadap konsumen yang datang langsung ke tempat perajin yang dalam hal ini terkait dengan tak adanya etalase yang menarik untuk memajang produk unggulan sandal dan sepatu kulit. Etalase yang digunakan untuk mendekorasi produk hasil keaktifan sandal dan sepatu jangat yang disediakan oleh pengrajin ditempat hanyalah berupa rak sepatu/sandal sederhana yang terbuat dari kayu. Hal ini patut disayangkan karena memangkas nilai estetika dan daya tarik produk. Dengan menggunakan etalase yang banyak biasa dan tak menarik, produk yang dipajang juga menjadi rendah menarik. Gambar 3. Produk sepatu dengan kelompen yang dipajang dengan cara ditumpuk seadanya atas para-para kusen yang menempel di dinding. Terkait dengan kondisi pengrajin sepatu dan sandal kulit di desa Sukodadi dan desa Pandanlandung yang digambarkan diatas serta visi misi dari kecamatan Wagir yaitu terwujudnya masyarakat yang Madep Manteb (Mandiri, Agamis, Demokratis, Produktif, Maju, Aman, Tertib, dan Berdaya saing) maka perlu peran beserta semua pihak untuk mewujudkan visi delegasi tersebut terutama terkait faktor Produktif, Maju, dan Berdaya saing. Untuk membantu mewujudkan hal tersebut, yaitu mengembangkan usaha kecil dan menengah yang dikelola oleh masyarakat yang khususnya dalam hal ini adalah pengrajin sepatu dan sandal kulit agar menjadi lebih produktif, maju, dan berdaya saing, perlu adanya bantuan terkait permodalan bagi para pengrajin. JPM (Jurnal Pemberdayaan Masyarakat) ISSN : 25411977 E- ISSN : 25411977 Vol. 2 No. 2 2017 http://ejournal.unikama.ac.id/index.php/jpm 169 Dengan bantuan permodalan yang memadai serta bantuan pendampingan usaha maka diyakini produk unggulan yang dimiliki bagi kedua desa ini akan mampu berbunga menurut positif dengan peningkatan kuantitas serta kualitas produksi, pengemasan produk yang menarik, serta layanan konsumen yang baik. Pada akhirnya ikhtiar halus medium pada kedua desa ini diharapkan akan mampu bersaing dengan produk yang dihasilkan dari daerah-daerah lainnya. Selain itu, peningkatan kuantitas dan kualitas produksi akan memacu pertumbuhan permintaan akan produk yang pada akhirnya akan memberikan peluang kerja yang lebih banyak bagi masyarakat sekitarnya. Dengan demikian, dampak jangka panjang yang akan dapat diraih ialah peningkatan gaji dengan tingkat perekonomian masyarakat. Permasalahan Mitra Permasalahan yang dihadapi pengrajin sepatu dan sandal tersebut saat ini celah lain: 1) Sangat minimnya peralatan penunjang produksi sandal dan sepatu kulit yang dimiliki. Pengerjaan pada proses produksi masih bersifat manual dengan peralatan yang masih sangat terbatas dan masih melambangkan peralatan yang dibuat seorang diri oleh pengrajin. Hal ini mengakibatkan pengrajin mengalami kesulitan untuk berkembang dan meningkatkan hasil produksi. Kedua pengrajin sangat membutuhkan instrumen penunjang produksi berupa mesin jahit benang besar juki, mesin seset sepatu, serta mesin press sepatu dengan sandal. 2) Kedua pengrajin juga mengalami kendala dalam meningkatkan kualitas kemasan produk yang dihasilkan. Dikarenakan minimnya sumberdaya yang dimiliki, pada saat ini produk yang dihasilkan cuma dikemas dengan sangat sederhana dan tidak menarik. 3) Etalase yang digunakan untuk memajang produk produk kegetolan kelompen dan sepatu kulit yang disediakan oleh pengrajin ditempat hanyalah berupa para-para sepatu/sandal sederhana yang terbuat dari kayu. Hal ini patut disayangkan karena mengurangi nilai estetika dengan daya anjur produk. Dengan menggunakan etalase yang sangat sederhana dan tidak menarik, produk yang dipajang juga menjadi kurang menarik. 4) Belum adanya manajemen finansial yang baik sehingga aliran dana usaha produksi sering tersendat. 5) Kurangnya pengetahuan dan ketrampilan mitra dalam melaksanakan media promosi dan cetak biru pemasaran. B. METODE PELAKSANAAN Metode yang ditawarkan Metode yang ditawarkan untuk mengatasi permasalahan kelompok usaha mitra merupakan sebagai berikut: 1. Pelatihan manajemen produksi sepatu kulit yang berkualitas. 2. Pelatihan penggunaan alat bantuan hibah berupa mesin jahit benang besar juki, mesin seset sepatu, serta alat press sepatu dan sandal. 3. Pelatihan dan pendampingan pembuatan bungkusan sepatu dan kelompen yang menarik. 4. Pelatihan display produk dengan bantuan etalase. 5. Pelatihan administrasi keuangan yang baik bertimbal standar UKM 6. Pelatihan tadbir pemasaran. 7. Pelatihan dengan pembuatan media sarana promosi online. Langkah-langkah solusi Langkah-langkah solusi untuk menunjang cara yang ditawarkan untuk mengatasi permasalahan kelompok usaha mitra adalah: 1. Pelatihan manajemen produksi sepatu kulit yang berkualitas. JPM (Jurnal Pemberdayaan Masyarakat) ISSN : 25411977 E- ISSN : 25411977 Vol. 2 No. 2 2017 http://ejournal.unikama.ac.id/index.php/jpm 170 Dalam pelatihan ini maka mitra difasilitasi untuk studi lapang sehingga mitra memperoleh gambaran untuk pengembangan usahanya. 2. Pelatihan penggunaan alat bantuan hibah berupa mesin jahit benang besar juki, alat seset sepatu, bersama alat press sepatu dan sandal. Pelatihan ini diperlukan agar mitra dapat menggunakan alat yang telah dihibahkan sesuai dengan prosedur dan dapat membantu menghasilkan produk yang bernilai cermat tinggi. 3. Pelatihan dan pendampingan pembuatan bungkusan sepatu dan kasut yang menarik. Kemasan sebelumnya masih menggunakan kardus dan tas pembungkus seadanya sehingga perlu desain kemasan yang layak dan menarik. 4. Pelatihan display produk dengan bantuan etalase. Produk sepatu yang dijual masih menggunakan etalase seadanya sehingga perlu adanya etalase sebagai tempat display produk yang menarik. 5. Pelatihan tadbir keuangan yang baik sesuai standar UKM. Mitra diharapkan dapat menyusun keuangan yang baik sesuai standar UKM sehingga dapat melakukan perencanaan pengembangan usaha jangka pendek, menengah dan panjang. 6. Pelatihan manajemen pemasaran. Pemasaran melambangkan faktor penting pada berlangsungnya proses produksi. Oleh atas itu diperlukan penataran pembibitan manajemen pemasaran yang baik. 7. Pelatihan dengan pembentukan alat sarana promosi online. Sarana promosi online merupakan salah satu sarana untuk memasarkan produk secara luas sehingga dalam mengembangkan usahanya diperlukan suatu upaya untuk membuat media sarana promosi tersebut. Partisipasi mitra dalam pelaksanaan program Partisipasi mitra dalam pelaksanaan program IbM sangat menentukan keberhasilan dan keberlanjutan program. Berikut adalah partisipasi aktif mitra dalam pelaksanaan agenda IbM ini yaitu: a. Pelatihan dan pendampingan Pelatihan alat penggunaan produksi, pelatihan mendesain kemasan, pelatihan menyusun rencana usaha, pelatihan melenggekkan informasi keuangan, pelatihan pembuatan sarana promosi dan pemasaran online, pelatihan manajemen pembukuan pabrikasi dan pemesanan. Proses pelatihan dan pendampingan berlangsung di salah satu rumah tempat mitra melakukan kegiatan produksi sehingga dapat dengan mudah diaplikasikan oleh mitra. b. Pemberian bantuan bingkisan instrumen pembuatan Pemberian hibah bantuan alat ini juga berlangsung di ruang mitra sehingga aplikasi eksploitasi alat tersebut hendak mudah terlaksana dengan baik. Mitra sendiri berperan dengan amat berperan dalam survey dan pengecekan ketersediaan alat produksi di distributor sehingga alat tersebut benar-benar sesuai dengan kebutuhan mitra dan dapat dimanfaatkan dengan baik. c. Kunjungan Lapang Kunjungan lapang kelokasi mitra sebagai bentuk pendampingan dan dilakukan secara periodik berdasarkan kesepakatan dari pengabdi dan mitra sehingga jalan pendampingan dapat dilakukan dan pengabdi dapat memonitor perkembangan usaha mitra. C. PEMBAHASAN Berdasarkan rancangan evaluasi kegiatan, tahapan kegiatan penelitian JPM (Jurnal Pemberdayaan Masyarakat) ISSN : 25411977 E- ISSN : 25411977 Vol. 2 No. 2 2017 http://ejournal.unikama.ac.id/index.php/jpm 171 penerapan Ipteks beserta pencapaian indikator kemakbulan diuraikan sebagai berikut: 1. Pemberian bantuan bingkisan instrumen produksi Faktor-faktor pabrikasi seperti bahan baku, tenaga kerja, tempat usaha dan peralatan usaha sangat dibutuhkan agar kegiatan produksi dapat berlangsung dengan efektif dan efisien. Hibah bantuan alat pembuatan yang diberikan kepada mitra yaitu antara lain mesin totol untuk menjahit sepatu dan sandal kulit, serta mesin press sepatu dan sandal kulit buat memberikan cetakan logo/merk pada sepatu atau sandal jangat yang diproduksi oleh mitra. 2. Pemberian pelatihan dan pendampingan pembuatan kemasan sepatu dan sandal yang menarik. Kemasan sebelumnya masih menggunakan kardus dan tas pembungkus seadanya sehingga perlu desain kemasan yang cukup dengan menarik. 3. Pemberian bantuan display produk dengan bantuan etalase. Produk sepatu yang dijual pada saat ini masih menggunakan etalase seadanya yang terbuat dari kayu sehingga perlu adanya etalase yang lebih menarik sebagai tempat display produk yang menarik bagi bakal pemesan yang datang. 4. Pemberian pelatihan manajemen keuangan yang baik bertimbal kaki UKM. Dengan diberikan pelatihan manajemen keuangan yang baik sesuai dengan standar UKM, mitra diharapkan dapat melenggekkan laporan finansial yang baik sesuai standar UKM sehingga dapat melakukan perencanaan pengembangan usaha jangka pendek, menengah dan panjang. Pelatihan manajemen finansial yang baik sesuai standar UKM akan membantu UKM melakukan proses perencanaan dan pengembangan usaha jangka pendek, menengah dan panjang (Sunarta, 2001). 5. Pemberian pelatihan manajemen pemasaran. Pemasaran merupakan faktor penting pada berlangsungnya proses produksi (Shinta, 2011). Oleh karena itu pelatihan manajemen pemasaran yang baik ini diberikan agar mitra dapat menerapkan strategi-strategi yang tepat terkait promosi produk sepatu dan sandal kulit yang mereka pasarkan bersama dapat melihat peluang-peluang manajemen pemasaran yang kian luas dengan efektif.. 6. Pemberian pelatihan dan pembuatan media aparat iklan online. Sarana promosi online merupakan salah satu sarana untuk memasarkan produk secara luas sehingga dalam mengembangkan usahanya diperlukan suatu upaya untuk membuat media sarana promosi tersebut. Pelatihan ini diberikan karena mitra belum mengetahui cara dan media promosi online serta manfaat yang sangat besar yang dapat mereka dapatkan melalui promosi online. Dengan membuka promosi online mitra memiliki jaringan promosi yang lebih luas dan membuka peluang yang lebih besar untuk peningkatan produksinya kelak. Partisipasi mitra dalam pelaksanaan program IbM sangat menentukan keberhasilan dan keberlanjutan program. Berikut adalah partisipasi aktif mitra dalam pelaksanaan acara IbM ini yaitu: a. Pelatihan dengan pendampingan Pelatihan alat penggunaan produksi, pelatihan mendesain kemasan, pelatihan menyusun rencana usaha, pelatihan melenggekkan informasi keuangan, pelatihan pembuatan sarana promosi dan pemasaran online, pelatihan manajemen pembukuan pabrikasi dan pemesanan. Proses pelatihan dan pendampingan berlangsung di salah satu bangunan tempat mitra melancarkan kegiatan produksi sehingga dapat dengan mudah diaplikasikan oleh mitra. b. Pemberian derma bingkisan alat produksi Pemberian hibah bantuan alat ini juga berlangsung di area mitra sehingga JPM (Jurnal Pemberdayaan Masyarakat) ISSN : 25411977 E- ISSN : 25411977 Vol. 2 No. 2 2017 http://ejournal.unikama.ac.id/index.php/jpm 172 aplikasi aplikasi alat tersebut akan mudah terlaksana dengan baik. Mitra sendiri berperan dengan banyak bersungguh-sungguh dalam survey dan pengecekan ketersediaan alat produksi di distributor sehingga alat tersebut benar-benar sesuai dengan kebutuhan mitra dan dapat dimanfaatkan dengan baik. c. Kunjungan Lapang Kunjungan lapang kelokasi mitra sebagai bentuk pendampingan dan dilakukan secara periodik berdasarkan kesepakatan dari pengabdi dan mitra sehingga proses pendampingan dapat dilakukan dan pengabdi dapat memonitor perkembangan usaha mitra. D. PENUTUP Kesimpulan Pelaksanaan Iptek bagi Masyarakat ini menebak berjalan bertimbal dengan acara yang telah disusun. Masyarakat juga mengikuti semua program dengan antusias. Saran Perlu adanya pendampingan manajemen produksi maupun pemasaran sehingga produk sepatu dan sandal kulit yang dihasilkan bagi kedua mitra dapat diproduksi dengan kualitas yang apik beserta dapat dipasarkan lebih banglas dan efektif. Selain itu masyarakat lagi memerlukan pendampingan dalam hal pengelolaan keuangan. Ucapan Terima Kasih Ucapan terima kasih kami sampaikan ala khusus kepada DP2M DIKTI yang telah memberikan bantuan hibah dana IbM untuk kegiatan pengabdian yang talah aku laksanakan ini. E. DAFTAR PUSTAKA Anonymous. 2016. Kecamatan Wagir Dalam Angka Tahun 2016. Badan Pusat Statistik Kabupaten Malang. Shinta, A. 2011. Manajemen Pemasaran. Malang: UB Press. Sunarta. 2001. Manajemen Keuangan. Yogyakarta: Universitas Negeri Yogyakarta. This research hasn't been cited in any other publications. This research doesn't cite any other publications.
Sekian detil atas (PDF) IBM PENGRAJIN SEPATU DAN SANDAL KULIT moga-moga catatan ini bermanfaat salam
tulisan ini diposting pada tag produksi sendal sepatu, produksi sepatu kasut mojokerto jawa timur, produksi kasut dengan sepatu, , tanggal 19-06-2019, di cuplik dari https://www.researchgate.net/publication/321867810_IBM_PENGRAJIN_SEPATU_DAN_SANDAL_KULIT


Comments
Post a Comment