(PDF) IBM PENGRAJIN SEPATU DAN SANDAL KULIT Produksi Sendal Sepatu

Allow, bebas sore, pada kali ini akan dibahas atas produksi sendal sepatu (PDF) IBM PENGRAJIN SEPATU DAN SANDAL KULIT menyimak memerhatikan selengkapnya 

Kegiatan IbM ini bertujuan buat membantu dua blok pengrajin sepatu di babakan Pandanlandung dan Sukodadi kecamatan Wagir tercantol kendala dalam meningkatkan kemampuan produksinya serta di meningkatkan derajat produk, kemasan dari produk, bersama pelayanan atas klien belah komoditas yang menebak dihasilkan. Metode yang ditawarkan untuk melebihi permasalahan blok upaya mitra ialah sebagai beserta (1) Pelatihan manajemen pabrikasi sepatu jangat yang berkualitas; (2) Pelatihan penggunaan gawai bantuan derma berupa alat perkakas jahit lawai besar juki, alat seset sepatu, serta alat press sepatu dan sandal; (3) Pelatihan dengan pendampingan pembuatan buntelan sepatu dan sandal yang menarik; (4) Pelatihan display produk dengan bantuan etalase; (5) Pelatihan administrasi moneter yang baik bertimbal standar UKM; (6) Pelatihan tadbir pemasaran; (7) Pelatihan dan pembuatan corong alat advertensi online. Hasil aplikasi membuktikan bahwa aktivitas menduga tercapai bertimbal agenda dengan kena respon yang afirmatif dari mitra aksi Ipteks alokasi Masyarakat ini. Kegiatan ini juga boleh melepaskan dampak yang absolut akan kelanjutan upaya pabrikasi kasut dengan sepatu dari kedua mitra. Kata kunci: IbM; pengrajin sepatu; kelompen kulit.

JPM (Jurnal Pemberdayaan Masyarakat)

ISSN : 25411977 E- ISSN : 25411977

Vol. 2 No. 2 2017

http://ejournal.unikama.ac.id/index.php/jpm

166

IBM PENGRAJIN SEPATU DAN SANDAL KULIT

Uun Muhaji1, Irma Tyasari2

Universitas Kanjuruhan Malang1,2

uun.muhaji@gmail.com1, irmatyasari@gmail.com2

Abstract

The objective of this community service agenda was to help two groups of shoe

makers in Pandanlandung and Sukodadi village in Wagir districts which were struggling to

improve their production capacity, product quality, packaging, and customer service. During

the implementation of this program, the method offered to help overcoming those problems

was by conducting: (1) a workshop on a quality shoe production management; (2) a

workshop on utilizing granted shoe production machineries which done after the handover of

the machineries; (3) a workshop on producing decent shoes and sandals packaging; (4) a

workshop on product displaying which done after the handover of the product displays; (5) a

workshop on Small to Medium Enterprise’s standardized money management; (6) a

workshop on marketing management; and (7) a workshop on online promotion media. The

result of this community service acara showed that the planned help-offerings were

conducted on shcedule, the responses were positive, and the impact on the shoe prodcuction

was also positive.

Keywords: community service program; shoemakers; leather sandals.

Abstrak

Kegiatan IbM ini bertujuan untuk membantu dua blok pengrajin sepatu di desa

Pandanlandung dan Sukodadi kecamatan Wagir terkait kendala dalam meningkatkan

kemampuan produksinya serta dalam meningkatkan kualitas produk, kemasan dari produk,

serta pelayanan terhadap konsumen bagi produk yang telah dihasilkan. Metode yang

ditawarkan untuk mengatasi permasalahan kelompok usaha mitra merupakan sebagai berikut (1)

Pelatihan manajemen produksi sepatu kulit yang berkualitas; (2) Pelatihan penggunaan alat

bantuan hibah berupa mesin jahit benang besar juki, mesin seset sepatu, serta mesin press

sepatu dan sandal; (3) Pelatihan dan pendampingan pembuatan kemasan sepatu dan sandal

yang menarik; (4) Pelatihan display barang dengan bantuan etalase; (5) Pelatihan manajemen

keuangan yang baik bertemu standar UKM; (6) Pelatihan tadbir pemasaran; (7) Pelatihan

dan pembuatan media sarana promosi online. Hasil pelaksanaan menunjukkan bahwa

kegiatan telah kesampaian sesuai acara dengan beroleh respon yang absolut dari mitra kegiatan

Ipteks bagi Masyarakat ini. Kegiatan ini juga boleh memberikan dampak yang afirmatif

terhadap perkembangan upaya pabrikasi kelompen dan sepatu dari kedua mitra.

Kata kunci: IbM; pengrajin sepatu; sandal kulit.

JPM (Jurnal Pemberdayaan Masyarakat)

ISSN : 25411977 E- ISSN : 25411977

Vol. 2 No. 2 2017

http://ejournal.unikama.ac.id/index.php/jpm

167

A. PENDAHULUAN

Wagir merupakan salah satu

kecamatan yang terletak di Kabupaten

Malang, Provinsi Jawa Timur. Kecamatan

Wagir terwalak pada bagian tengah lor

kabupaten Malang dan berbatasan

langsung dengan empat kecamatan, Kota

Malang, dan kabupaten Blitar. Pada

sebelah utara, berbatasan dengan

kecamatan DAU, sedangkan pada sebelah

timur berbatasan dengan Kota Malang.

Pada bagian selatan, Wagir berbatasan

dengan kecamatan Pakisaji, kecamatan

Ngajum, dan kecamatan Wonosari.

Kondisi ini menjadikan kecamatan Wagir

sebagai wilayah yang memiliki posisi

cukup strategis yang ditandai dengan

semakin ramainya jalur transportasi yang

melewati kecamatan Wagir baik jalur

transportasi lor maupun selatan. Posisi

koordinat kecamatan Wagir berada ala

112,5406 Bujur Timur dan 112,6112

Bujur Barat dan antara 8,0301 Lintang

selatan dan 1,9702 Lintang selatan. Pada

kecamatan Wagir, terdapat 12 babakan dengan

dua desa diantaranya yaitu desa Sukodadi

dan desa Pandanlandung (Badan Pusat

Statistik Kabupaten Malang, 2016).

Mata penghidupan penduduk banat

Sukodadi dan desa Pandanlandung cukup

beragam yaitu petani, pedagang, buruh,

serta pengrajin industri kecil dan

menengah. Dari beberapa jenis mata

pencaharian penduduk tersebut,

khususnya dari pengrajin industri kecil

dan menengah, terdapat potensi yang

sangat menjanjikan dari desa Sukodadi

dan desa Pandanlandung yaitu dengan

adanya pengrajin sepatu dan sandal kulit

pada kedua desa tersebut. Produk

kerajinan sepatu dan sandal kulit tersebut

telah masuk sebagai salah satu produk

unggulan dari kecamatan Wagir. Perlu

diketahui bahwa diantara kedua belas babakan

yang ada di kecamatan Wagir, hanya babakan

Sukodadi dengan banat Pandanlandung yang

memiliki pengrajin sepatu kulit sehingga

potensi ini masih sangat bisa bersaing dan

masih sangat perlu untuk dikembangkan.

Produk sepatu dan sandal kulit dari

pengrajin ala kedua desa tersebut juga

sudah cukup dikenal dan mulai ada

pelanggan baik dari wilayah Malang dan

sekitarnya maupun dari luar wilayah

Malang. Adapun pengrajin sepatu dan

sandal kulit pada desa Pandanlandung

adalah aba Suparmin, sebaliknya pada

desa Sukodadi dusun Jamuran pengrajin

sepatu dan sandal kulit adalah bapak

Meseno. Gambar 1. Suasana ruang.

Gambar 1. Pengerjaan barang sepatu dan kasut

kulit

Gambar 2. Produk sepatu dan kasut kulit yang

dihasilkan akibat pengrajin

Terlepas dari telah berjalannya

usaha produksi sepatu dan sandal kulit

tersebut, serta telah masuknya produk

kerajinan ini sebagai potensi unggulan

yang dimiliki oleh kedua desa, masih

terdapat kendala yang dihadapi oleh para

pengrajin tersebut dalam meningkatkan

kemampuan produksinya serta dalam

meningkatkan kualitas produk, kemasan

JPM (Jurnal Pemberdayaan Masyarakat)

ISSN : 25411977 E- ISSN : 25411977

Vol. 2 No. 2 2017

http://ejournal.unikama.ac.id/index.php/jpm

168

dari produk, serta pelayanan terhadap

konsumen bagi produk yang telah

dihasilkan.

Kedua pengrajin, yaitu bapak

Suparmin dan bapak Meseno, dari kedua

desa tersebut memiliki kendala dalam hal

meningkatkan kemampuan produksi serta

kualitas produk yang dihasilkan yang

dikarenakan oleh sangat minimnya

peralatan penunjang pembuatan sandal dan

sepatu kulit yang dimiliki. Pengerjaan

pada proses produksi masih bersifat

manual dengan peralatan yang masih

sangat terbatas dan masih merupakan

peralatan yang dibuat sendiri oleh

pengrajin. Hal ini mengakibatkan

pengrajin mengalami kesulitan untuk

berkembang dan meningkatkan hasil

produksi. Kedua pengrajin sangat

membutuhkan peralatan penunjang

produksi berupa mesin jahit benang besar

juki, alat seset sepatu, serta mesin press

sepatu dengan sandal.

Selain hal tersebut diatas, kedua

pengrajin juga mengalami kendala dalam

meningkatkan kualitas kemasan produk

yang dihasilkan. Dikarenakan minimnya

sumberdaya yang dimiliki, ala saat ini

produk yang dihasilkan hanya dikemas

dengan sangat sederhana dan tidak

menarik. Padahal kemasan barang yang

menarik akan berdampak sangat positif

pada kesan yang ditimbulkan bagi

konsumen. Produk yang dikemas secara

apik dan menarik akan menambah minat

dari konsumen untuk membeli produk

tersebut dan akan menimbulkan kepuasan

tersendiri ala era membelinya. Kedua

pengrajin membutuhkan bantuan dalam

desain kemasan yang menarik serta

sumberdaya keuangan untuk mewujudkan

kemasan yang atraktif tersebut.

Lebih jauh lagi, tidak hanya kedua

hal tersebut diatas yang menjadi kendala,

namun juga dari aspek pelayanan terhadap

konsumen yang datang langsung ke

tempat perajin yang dalam hal ini terkait

dengan tak adanya etalase yang menarik

untuk memajang produk unggulan sandal

dan sepatu kulit. Etalase yang digunakan

untuk mendekorasi produk hasil keaktifan

sandal dan sepatu jangat yang disediakan

oleh pengrajin ditempat hanyalah berupa

rak sepatu/sandal sederhana yang terbuat

dari kayu. Hal ini patut disayangkan

karena memangkas nilai estetika dan daya

tarik produk. Dengan menggunakan

etalase yang banyak biasa dan tak

menarik, produk yang dipajang juga

menjadi rendah menarik.

Gambar 3. Produk sepatu dengan kelompen yang dipajang

dengan cara ditumpuk seadanya atas para-para kusen

yang menempel di dinding.

Terkait dengan kondisi pengrajin

sepatu dan sandal kulit di desa Sukodadi

dan desa Pandanlandung yang

digambarkan diatas serta visi misi dari

kecamatan Wagir yaitu terwujudnya

masyarakat yang Madep Manteb

(Mandiri, Agamis, Demokratis, Produktif,

Maju, Aman, Tertib, dan Berdaya saing)

maka perlu peran beserta semua pihak untuk

mewujudkan visi delegasi tersebut terutama

terkait faktor Produktif, Maju, dan

Berdaya saing. Untuk membantu

mewujudkan hal tersebut, yaitu

mengembangkan usaha kecil dan

menengah yang dikelola oleh masyarakat

yang khususnya dalam hal ini adalah

pengrajin sepatu dan sandal kulit agar

menjadi lebih produktif, maju, dan

berdaya saing, perlu adanya bantuan

terkait permodalan bagi para pengrajin.

JPM (Jurnal Pemberdayaan Masyarakat)

ISSN : 25411977 E- ISSN : 25411977

Vol. 2 No. 2 2017

http://ejournal.unikama.ac.id/index.php/jpm

169

Dengan bantuan permodalan yang

memadai serta bantuan pendampingan

usaha maka diyakini produk unggulan

yang dimiliki bagi kedua desa ini akan

mampu berbunga menurut positif dengan

peningkatan kuantitas serta kualitas

produksi, pengemasan produk yang

menarik, serta layanan konsumen yang

baik. Pada akhirnya ikhtiar halus medium

pada kedua desa ini diharapkan akan

mampu bersaing dengan produk yang

dihasilkan dari daerah-daerah lainnya.

Selain itu, peningkatan kuantitas dan

kualitas produksi akan memacu

pertumbuhan permintaan akan produk

yang pada akhirnya akan memberikan

peluang kerja yang lebih banyak bagi

masyarakat sekitarnya. Dengan demikian,

dampak jangka panjang yang akan dapat

diraih ialah peningkatan gaji dengan

tingkat perekonomian masyarakat.

Permasalahan Mitra

Permasalahan yang dihadapi

pengrajin sepatu dan sandal tersebut saat

ini celah lain:

1) Sangat minimnya peralatan

penunjang produksi sandal dan sepatu

kulit yang dimiliki. Pengerjaan pada

proses produksi masih bersifat manual

dengan peralatan yang masih sangat

terbatas dan masih melambangkan peralatan

yang dibuat seorang diri oleh pengrajin. Hal ini

mengakibatkan pengrajin mengalami

kesulitan untuk berkembang dan

meningkatkan hasil produksi. Kedua

pengrajin sangat membutuhkan instrumen

penunjang produksi berupa mesin jahit

benang besar juki, mesin seset sepatu,

serta mesin press sepatu dengan sandal.

2) Kedua pengrajin juga mengalami

kendala dalam meningkatkan kualitas

kemasan produk yang dihasilkan.

Dikarenakan minimnya sumberdaya yang

dimiliki, pada saat ini produk yang

dihasilkan cuma dikemas dengan sangat

sederhana dan tidak menarik.

3) Etalase yang digunakan untuk

memajang produk produk kegetolan kelompen

dan sepatu kulit yang disediakan oleh

pengrajin ditempat hanyalah berupa para-para

sepatu/sandal sederhana yang terbuat dari

kayu. Hal ini patut disayangkan karena

mengurangi nilai estetika dengan daya anjur

produk. Dengan menggunakan etalase

yang sangat sederhana dan tidak menarik,

produk yang dipajang juga menjadi

kurang menarik.

4) Belum adanya manajemen finansial

yang baik sehingga aliran dana usaha

produksi sering tersendat.

5) Kurangnya pengetahuan dan

ketrampilan mitra dalam melaksanakan media

promosi dan cetak biru pemasaran.

B. METODE PELAKSANAAN

Metode yang ditawarkan

Metode yang ditawarkan untuk

mengatasi permasalahan kelompok usaha

mitra merupakan sebagai berikut:

1. Pelatihan manajemen produksi sepatu

kulit yang berkualitas.

2. Pelatihan penggunaan alat bantuan

hibah berupa mesin jahit benang besar

juki, mesin seset sepatu, serta alat

press sepatu dan sandal.

3. Pelatihan dan pendampingan

pembuatan bungkusan sepatu dan kelompen

yang menarik.

4. Pelatihan display produk dengan

bantuan etalase.

5. Pelatihan administrasi keuangan yang

baik bertimbal standar UKM

6. Pelatihan tadbir pemasaran.

7. Pelatihan dengan pembuatan media sarana

promosi online.

Langkah-langkah solusi

Langkah-langkah solusi untuk

menunjang cara yang ditawarkan untuk

mengatasi permasalahan kelompok usaha

mitra adalah:

1. Pelatihan manajemen produksi sepatu

kulit yang berkualitas.

JPM (Jurnal Pemberdayaan Masyarakat)

ISSN : 25411977 E- ISSN : 25411977

Vol. 2 No. 2 2017

http://ejournal.unikama.ac.id/index.php/jpm

170

Dalam pelatihan ini maka mitra

difasilitasi untuk studi lapang sehingga

mitra memperoleh gambaran untuk

pengembangan usahanya.

2. Pelatihan penggunaan alat bantuan

hibah berupa mesin jahit benang besar

juki, alat seset sepatu, bersama alat

press sepatu dan sandal.

Pelatihan ini diperlukan agar mitra

dapat menggunakan alat yang telah

dihibahkan sesuai dengan prosedur

dan dapat membantu menghasilkan

produk yang bernilai cermat tinggi.

3. Pelatihan dan pendampingan

pembuatan bungkusan sepatu dan kasut

yang menarik. Kemasan sebelumnya

masih menggunakan kardus dan tas

pembungkus seadanya sehingga perlu

desain kemasan yang layak dan

menarik.

4. Pelatihan display produk dengan

bantuan etalase. Produk sepatu yang

dijual masih menggunakan etalase

seadanya sehingga perlu adanya

etalase sebagai tempat display produk

yang menarik.

5. Pelatihan tadbir keuangan yang

baik sesuai standar UKM. Mitra

diharapkan dapat menyusun keuangan

yang baik sesuai standar UKM

sehingga dapat melakukan

perencanaan pengembangan usaha

jangka pendek, menengah dan

panjang.

6. Pelatihan manajemen pemasaran.

Pemasaran melambangkan faktor penting

pada berlangsungnya proses produksi.

Oleh atas itu diperlukan penataran pembibitan

manajemen pemasaran yang baik.

7. Pelatihan dengan pembentukan alat sarana

promosi online. Sarana promosi online

merupakan salah satu sarana untuk

memasarkan produk secara luas

sehingga dalam mengembangkan

usahanya diperlukan suatu upaya

untuk membuat media sarana promosi

tersebut.

Partisipasi mitra dalam

pelaksanaan program

Partisipasi mitra dalam pelaksanaan

program IbM sangat menentukan

keberhasilan dan keberlanjutan program.

Berikut adalah partisipasi aktif mitra

dalam pelaksanaan agenda IbM ini yaitu:

a. Pelatihan dan pendampingan

Pelatihan alat penggunaan produksi,

pelatihan mendesain kemasan,

pelatihan menyusun rencana usaha,

pelatihan melenggekkan informasi keuangan,

pelatihan pembuatan sarana promosi

dan pemasaran online, pelatihan

manajemen pembukuan pabrikasi dan

pemesanan. Proses pelatihan dan

pendampingan berlangsung di salah

satu rumah tempat mitra melakukan

kegiatan produksi sehingga dapat

dengan mudah diaplikasikan oleh

mitra.

b. Pemberian bantuan bingkisan instrumen pembuatan

Pemberian hibah bantuan alat ini juga

berlangsung di ruang mitra sehingga

aplikasi eksploitasi alat tersebut hendak

mudah terlaksana dengan baik. Mitra

sendiri berperan dengan amat berperan

dalam survey dan pengecekan

ketersediaan alat produksi di

distributor sehingga alat tersebut

benar-benar sesuai dengan kebutuhan

mitra dan dapat dimanfaatkan dengan

baik.

c. Kunjungan Lapang

Kunjungan lapang kelokasi mitra

sebagai bentuk pendampingan dan

dilakukan secara periodik berdasarkan

kesepakatan dari pengabdi dan mitra

sehingga jalan pendampingan dapat

dilakukan dan pengabdi dapat

memonitor perkembangan usaha

mitra.

C. PEMBAHASAN

Berdasarkan rancangan evaluasi

kegiatan, tahapan kegiatan penelitian

JPM (Jurnal Pemberdayaan Masyarakat)

ISSN : 25411977 E- ISSN : 25411977

Vol. 2 No. 2 2017

http://ejournal.unikama.ac.id/index.php/jpm

171

penerapan Ipteks beserta pencapaian

indikator kemakbulan diuraikan sebagai

berikut:

1. Pemberian bantuan bingkisan instrumen produksi

Faktor-faktor pabrikasi seperti bahan

baku, tenaga kerja, tempat usaha dan

peralatan usaha sangat dibutuhkan agar

kegiatan produksi dapat berlangsung

dengan efektif dan efisien. Hibah bantuan

alat pembuatan yang diberikan kepada mitra

yaitu antara lain mesin totol untuk

menjahit sepatu dan sandal kulit, serta

mesin press sepatu dan sandal kulit buat

memberikan cetakan logo/merk pada

sepatu atau sandal jangat yang diproduksi

oleh mitra.

2. Pemberian pelatihan dan pendampingan

pembuatan kemasan sepatu dan sandal

yang menarik.

Kemasan sebelumnya masih

menggunakan kardus dan tas pembungkus

seadanya sehingga perlu desain kemasan

yang cukup dengan menarik.

3. Pemberian bantuan display produk

dengan bantuan etalase.

Produk sepatu yang dijual pada saat

ini masih menggunakan etalase seadanya

yang terbuat dari kayu sehingga perlu

adanya etalase yang lebih menarik

sebagai tempat display produk yang

menarik bagi bakal pemesan yang datang.

4. Pemberian pelatihan manajemen

keuangan yang baik bertimbal kaki UKM.

Dengan diberikan pelatihan

manajemen keuangan yang baik sesuai

dengan standar UKM, mitra diharapkan

dapat melenggekkan laporan finansial yang

baik sesuai standar UKM sehingga dapat

melakukan perencanaan pengembangan

usaha jangka pendek, menengah dan

panjang. Pelatihan manajemen finansial

yang baik sesuai standar UKM akan

membantu UKM melakukan proses

perencanaan dan pengembangan usaha

jangka pendek, menengah dan panjang

(Sunarta, 2001).

5. Pemberian pelatihan manajemen

pemasaran.

Pemasaran merupakan faktor

penting pada berlangsungnya proses

produksi (Shinta, 2011). Oleh karena itu

pelatihan manajemen pemasaran yang

baik ini diberikan agar mitra dapat

menerapkan strategi-strategi yang tepat

terkait promosi produk sepatu dan sandal

kulit yang mereka pasarkan bersama dapat

melihat peluang-peluang manajemen

pemasaran yang kian luas dengan efektif..

6. Pemberian pelatihan dan pembuatan

media aparat iklan online.

Sarana promosi online merupakan

salah satu sarana untuk memasarkan

produk secara luas sehingga dalam

mengembangkan usahanya diperlukan

suatu upaya untuk membuat media sarana

promosi tersebut. Pelatihan ini diberikan

karena mitra belum mengetahui cara dan

media promosi online serta manfaat yang

sangat besar yang dapat mereka dapatkan

melalui promosi online. Dengan membuka

promosi online mitra memiliki jaringan

promosi yang lebih luas dan membuka

peluang yang lebih besar untuk

peningkatan produksinya kelak.

Partisipasi mitra dalam pelaksanaan

program IbM sangat menentukan

keberhasilan dan keberlanjutan program.

Berikut adalah partisipasi aktif mitra

dalam pelaksanaan acara IbM ini yaitu:

a. Pelatihan dengan pendampingan

Pelatihan alat penggunaan produksi,

pelatihan mendesain kemasan,

pelatihan menyusun rencana usaha,

pelatihan melenggekkan informasi keuangan,

pelatihan pembuatan sarana promosi

dan pemasaran online, pelatihan

manajemen pembukuan pabrikasi dan

pemesanan. Proses pelatihan dan

pendampingan berlangsung di salah

satu bangunan tempat mitra melancarkan

kegiatan produksi sehingga dapat

dengan mudah diaplikasikan oleh

mitra.

b. Pemberian derma bingkisan alat produksi

Pemberian hibah bantuan alat ini juga

berlangsung di area mitra sehingga

JPM (Jurnal Pemberdayaan Masyarakat)

ISSN : 25411977 E- ISSN : 25411977

Vol. 2 No. 2 2017

http://ejournal.unikama.ac.id/index.php/jpm

172

aplikasi aplikasi alat tersebut akan

mudah terlaksana dengan baik. Mitra

sendiri berperan dengan banyak bersungguh-sungguh

dalam survey dan pengecekan

ketersediaan alat produksi di

distributor sehingga alat tersebut

benar-benar sesuai dengan kebutuhan

mitra dan dapat dimanfaatkan dengan

baik.

c. Kunjungan Lapang

Kunjungan lapang kelokasi mitra

sebagai bentuk pendampingan dan

dilakukan secara periodik berdasarkan

kesepakatan dari pengabdi dan mitra

sehingga proses pendampingan dapat

dilakukan dan pengabdi dapat

memonitor perkembangan usaha

mitra.

D. PENUTUP

Kesimpulan

Pelaksanaan Iptek bagi Masyarakat

ini menebak berjalan bertimbal dengan acara

yang telah disusun. Masyarakat juga

mengikuti semua program dengan

antusias.

Saran

Perlu adanya pendampingan

manajemen produksi maupun pemasaran

sehingga produk sepatu dan sandal kulit

yang dihasilkan bagi kedua mitra dapat

diproduksi dengan kualitas yang apik beserta

dapat dipasarkan lebih banglas dan efektif.

Selain itu masyarakat lagi memerlukan

pendampingan dalam hal pengelolaan

keuangan.

Ucapan Terima Kasih

Ucapan terima kasih kami

sampaikan ala khusus kepada DP2M

DIKTI yang telah memberikan bantuan

hibah dana IbM untuk kegiatan

pengabdian yang talah aku laksanakan

ini.

E. DAFTAR PUSTAKA

Anonymous. 2016. Kecamatan Wagir

Dalam Angka Tahun 2016. Badan

Pusat Statistik Kabupaten Malang.

Shinta, A. 2011. Manajemen Pemasaran.

Malang: UB Press.

Sunarta. 2001. Manajemen Keuangan.

Yogyakarta: Universitas Negeri

Yogyakarta.

This research hasn't been cited in any other publications.

This research doesn't cite any other publications.

Sekian detil atas (PDF) IBM PENGRAJIN SEPATU DAN SANDAL KULIT moga-moga catatan ini bermanfaat salam

tulisan ini diposting pada tag produksi sendal sepatu, produksi sepatu kasut mojokerto jawa timur, produksi kasut dengan sepatu, , tanggal 19-06-2019, di cuplik dari https://www.researchgate.net/publication/321867810_IBM_PENGRAJIN_SEPATU_DAN_SANDAL_KULIT

Comments

Popular posts from this blog

Buah Huni - Direktorat Eksekutif ITB Kampus Jatinangor Rujak Buah Huni

Perbedaan Semut Merah Dan Semut Hitam Semut Merah

Ngilu-ngilu Segar, Rujak Buni Di Bogor Ini Bikin Ngiler : Okezone Lifestyle Rujak Buah Huni