Jelajah Pagi Di Desa Sejuta Bunga Sidomulyo Kota Batu Sentra Tanaman Hias

Jelajah Pagi di Desa Sejuta Bunga Sidomulyo Kota Batu

Hohoho, selamat siang, di kesempatan akan membawa pembahasan tentang sentral pendaman memanjang Jelajah Pagi di Desa Sejuta Bunga Sidomulyo Kota Batu simak selengkapnya 

Liputan6.com, Malang - Masyarakat di provinsi paling timur Pulau Jawa mengenal Kota Batu sebagai alpa ahad tujuan darmawisata favorit. Banyak objek liburan maupun keindahan alamnya menarik wisatawan untuk berkunjung ke kota berjuluk De Klein Switzerland atau Swiss kecil di Pulau Jawa ini.

Satu di antaranya adekuat disinggahi adalah Desa Sidomulyo, Kecamatan Batu. Salah ahad sentra budi kapabilitas pertanian holtikultura di Kota Batu, khususnya tanaman hias. Menuju banat ini, dari pusat melintasi Jalan Bukit Berbunga. Deretan kios penjual bunga ada di kiri kanan jalan ini.

Gapura bertuliskan ‘Masuk Kawasan Wisata Bunga Sidomulyo’ beres indeks masuk wilayah desa. Nama jalan di Desa Sidomulyo pun akrab aroma bunga, seperti Jalan Cemara Kipas, Jalan Palem Kuning, Jalan Cempaka, Jalan Mawar Putih, dengan lainnya.

Di banat dari sekeliling 2.400 kepala keluarga, 85 persennya membudidayakan pendaman hias. Baik di kebun, pekarangan, halaman kediaman dengan media polibag ataupun pot kantong plastik. Maupun di di green house ataupun bangunan berbahan plastik.

Di kebun, sejauh mata memandang akan tampak hamparan bunga cantik berbagai jenis. Ada kembali Pasar Bunga Sekarmulyo seluas 2,5 hektare dengan Gelora Bunga seluas 4 hektare. Tempat budi daya sekaligus sentra perdagangan bunga yang dikelola Kelompok Tani (Poktan) Bunga.

Umbar Suwito, seorang petani bunga di kawasan Pasar Bunga Sekarmulyo, Sidomulyo, Kota Batu, melahirkan para pekebun sudah terbiasa dengan ramai pelawat bersarang ke kebun alias mampir ke rumah–rumah warga.

"Biasanya akhir pekan itu paling ramai, ayu pagi ataupun sore hari. Baik datang berpasangan atau dengan keluarga mereka," cakap Umbar Suwito, Rabu, 18 Juli 2018.

Tak semua wisatawan yang berkunjung itu datang untuk membayar bunga. Kerap membayangkan cuma sekadar berpotret ataupun bertanya tentang jenis bunga. Ada lagi wisatawan yang berbelanja beberapa pot bunga mawar, anggrek, dengan lain sebagainya buat dibawa kembali sebagai buah tangan.

"Kami tidak keberatan kalau pelawat datang sekadar untuk berfoto. Karena pendapatan abdi bukan dari menjual bunga ke mereka, tapi melayani permintaan dari luar daerah," ujar Suwito.

Saksikan video pilihan di bawah ini:

Wisata Seribu Bunga di Kota Batu

Surga Bunga

Seorang petani bunga di Desa Sidomulyo lainnya, Sulastri mengatakan, ladang bunga tak berlimpah terdampak dengan tingginya angka kunjungan pelancong di Kota Batu. Sebab hasil penuaian mereka cenderung untuk melayani permintaan ke luar daerah.

"Ya, kalau datang buat bergambar itu sudah biasa, tidak mengganggu kami. Karena permintaan tertinggi bunga–bunga ini dari luar daerah," ujar Sulastri.

Pendapatan utama para pekebun tentu bukan dari transaksi langsung dengan para wisatawan. Melainkan memenuhi bestelan bunga ke berbagai daerah seperti Jakarta, Surabaya, Bali, Semarang, Kalimantan, dan alam lainnya.

Kota yang berada di lereng Gunung Panderman, Gunung Arjuna dan Welirang ini laksana adnan bagi pertanian holtikultura termasuk tanaman hias. Berada di kebesaran sekitar 1.500 meter di atas permukaan laut, master udara di Kota Batu rata-rata bekisar 21 derajat Celsius – 23 derajat Celsius.

Mengutip data Kota Batu Dalam Angka 2017 eigendom Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Batu, ada 24 jenis bunga yang dibudidayakan para petani di beberapa desa, terutama di Desa Sidomulyo dan Gunungsari. Meski demikian, jenis varietasnya bisa mencapai ratusan.

Bunga yang paling berlimpah dibudidayakan adalah mawar, krisan, anggrek, dan anthurium. Per triwulan IV 2016, buat anggrek ada 70.291 pendaman dengan luas panen 37.905 meter persegi produksinya mendapatkan 450.500 tangkai.

Anthurium ada 16.583 pohon di banglas panen 14.077 meter persegi memanifestasikan 133.000 tangkai. Bunga krisan ada 190.542 tanaman dengan banglas penuaian 168.250 meter persegi produktivitasnya mengaras 9.364.100 tangkai. Mawar terbanyak dibudidayakan, mengaras 1.313.454 tanaman di luas panen 1.158.000 meter persegi menghasilkan 25.620.880 tangkai.

Mengembangkan Desa Wisata

Kunjungan pelawat di Kota Batu berjalan naik tiap tahunnya. Pada 2016 silam, tercatat angka kunjungan mengaras 3,3 juta wisatawan. Naik menjadi 4,2 juta pelawat pada 2017 lalu. Meski demikian, tingginya jumlah pelancong itu tidak terlalu berdampak ke orang tani bunga.

"Kalau untuk orang tani bunga benar dampaknya tak terlalu signifikan. Mungkin ini harus oke perhatian," kata Suharto, Kepala Desa Sidomulyo.

Pemerintah banat bersama negeri kota sedang menyiapkan berbagai rencana untuk pengembangan desa. Agar bisa beres salah eka banat liburan unggulan, infrastruktur di desa juga harus dibenahi. Misalnya, menyiapkan area peraduan untuk pelancong di area perkebunan.

Pemerintah Kota Batu sedang memetakan kondisi babakan dengan menerjunkan konsultan wisata. Pemerintah banat tidak mau sekadar mengandalkan bantuan dari pemerintah. Apalagi desa sudah digelontor dana sebanyak Rp 1,3 miliar dari Dana Desa dan Rp 2 miliar dari Alokasi Dana Desa.

"Tahun ini abdi rumuskan melalui konferensi babakan apa saja kebutuhannya. Agar abdi siap beres banat liburan pada tahun depan," ujar Suharto.

Sekian detil tentang Jelajah Pagi di Desa Sejuta Bunga Sidomulyo Kota Batu semoga info ini bermanfaat terima kasih

tulisan ini diposting pada bagian sentra pohon hias, sentra tanaman hias cihideung, sentra tanaman hias di bogor, , tanggal 07-07-2019, di cuplik dari https://www.liputan6.com/regional/read/3594379/jelajah-pagi-di-desa-sejuta-bunga-sidomulyo-kota-batu

Comments

Popular posts from this blog

Buah Huni - Direktorat Eksekutif ITB Kampus Jatinangor Rujak Buah Huni

Perbedaan Semut Merah Dan Semut Hitam Semut Merah

Ngilu-ngilu Segar, Rujak Buni Di Bogor Ini Bikin Ngiler : Okezone Lifestyle Rujak Buah Huni