(PDF) PROFIL KESULITAN BELAJAR FISIKA POKOK BAHASAN KELISTRIKAN SISWA SMA DI KOTA SEMARANG Belajar Kelistrikan
Hi, selamat pagi, babak kali ini bakal mengartikan tentang belajar kelistrikan (PDF) PROFIL KESULITAN BELAJAR FISIKA POKOK BAHASAN KELISTRIKAN SISWA SMA DI KOTA SEMARANG simak selengkapnya
We use cookies to offer you a better experience, personalize content, tailor advertising, provide social media features, and better understand the use of our services. To learn more or modify/prevent the use of cookies, see our Cookie Policy and Privacy Policy.
Tujuan eksplorasi ini ialah memasang bentuk kerumitan belajar Fisika, khususnya pokok kayu debat Kelistrikan yang dialami bagi anak didik SMA di metropolis Semarang. Sampel investigasi adalah anak didik SMA aras X di metropolitan Semarang, diambil menurut cluster, dari SMA negeri dan swasta kelas I, II, dengan III, sebesar 214 siswa. Kesulitan belajar didiagnosis dengan lima pendekatan, yaitu alamat pembelajaran, ingatan prasyarat, biografi materi, miskonsepsi, dengan ilmu terstruktur. Kesulitan belajar Kelistrikan jarak beda disebabkan akibat rendahnya aneksasi konsep, lemahnya kemampuan matematis, dan kekurangmampuan mengkonversi satuan. Penyebab kesulitan belajar pada ilmu runtut merupakan rendahnya kemampuan: verbal, memanfaatkan skema, melahirkan desain jalan lepas masalah, dengan melaksanakan algoritma. Hasil penelitian memberitahukan bahwa kesulitan belajar Kelistrikan rata-rata berlaku atas sub pohon bahasan: Kuat Arus Listrik, Hukum Ohm, Hambatan Penghantar, Hukum Kirchof II, Energi & Daya Listrik, dengan Transformator. Sebagian siswa masih cecap miskonsepsi terhadap konsep Hukum Ohm dan Hambatan Penghantar. Bagi siswa sekolah peringkat III mengalami kerumitan belajar di semua bagian dengan bahan Kelistrikan Kata gerendel : profil, kesulitan belajar, kelistrikan
Jurnal Pend. Fisika Indonesia Vol. 4, No. 2, Juli 2006 100
PROFIL KESULITAN BELAJAR FISIKA POKOK BAHASAN
KELISTRIKAN SISWA SMA DI KOTA SEMARANG
Ani Rusilowati
Jurusan Fisika FMIPA UNNES
Jl. Raya Sekaran, Gunungpati Semarang
Abstrak
Tujuan investigasi ini ialah menentukan
profil kepelikan belajar Fisika, khususnya pokok kayu bahasan
Kelistrikan yang dialami oleh siswa SMA di kota
Semarang. Sampel penelitian adalah siswa SMA bagian
X di metropolis Semarang, diambil secara cluster, dari SMA
negeri dan swasta peringkat I, II, dan III, sebanyak 214
siswa. Kesulitan belajar didiagnosis dengan lima
pendekatan, yaitu tujuan pembelajaran, pengetahuan
prasyarat, profil materi, miskonsepsi, dan pengetahuan
terstruktur. Kesulitan belajar Kelistrikan antara lain
disebabkan oleh rendahnya penguasaan konsep,
lemahnya kemampuan matematis, dan
kekurangmampuan mengkonversi satuan. Penyebab
kesulitan belajar dalam pengetahuan integral adalah
rendahnya kemampuan: verbal, menggunakan skema,
membuat strategi pemecahan masalah, dan membuat
algoritma. Hasil penelitian menunjukkan bahwa
kesulitan belajar Kelistrikan rata-rata berlaku ala sub
pokok bahasan: Kuat Arus Listrik, Hukum Ohm,
Hambatan Penghantar, Hukum Kirchof II, Energi &
Daya Listrik, dan Transformator. Sebagian siswa masih
mengalami miskonsepsi terhadap konsep Hukum Ohm
dan Hambatan Penghantar. Bagi siswa sekolah
peringkat III mengalami kesulitan belajar di semua
aspek dengan barang Kelistrikan
Kata kunci
:
profil, kesulitan belajar, kelistrikan
PENDAHULUAN
Pada tingkat SMA, hasil belajar Fisika
masih tergolong ala peringkat rendah. Hal ini
dapat dilihat dari hasil UAN dari tahun ke tahun.
Meskipun pada tahun-tahun terakhir Fisika tidak
termasuk dalam matapelajaran yang di ujikan
secara nasional, tetapi hasil rata-rata biji Fisika
tetap tidak menggembirakan. Wacana mata
pelajaran Fisika akan diujikan secara nasional
mendorong peneliti untuk menentukan profil
kesulitan mahasiswa ketika mempelajari Fisika. Dengan
diketahuinya posisi kelemahan dan kekuatan siswa,
guru akan terbantu dalam menentukan strategi
pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan
siswanya. Hasil penelitian terhadap penguasaan
konsep Fisika mahasiswa SMA di kota Semarang, tarikh
2004, menunjukkan bahwa materi Kelistrikan
merupakan salah ahad pokok bahasan yang belum
dikuasai oleh siswa (Murni Tuk Nugroho, 2004).
Pokok analisis lain yang berpotensi menimbulkan
kesulitan adalah Kemagnetan, Getaran-
Gelombang, dengan Optik (Ani Rusilowati, 2007).
Pada penelitian ini, diagnosis kesulitan belajar
Fisika difokuskan pada materi Kelistrikan.
Kesulitan belajar didiagnosis dengan lima
pendekatan, yaitu tujuan pembelajaran,
pengetahuan prasyarat, profil materi, miskonsepsi,
dan pengetahuan terstruktur. Penyebab kepelikan
belajar Kelistrikan ditinjau dari penguasaan
konsep, daya matematis, dan daya
mengkonversi satuan. Penyebab kepelikan belajar
dalam pengetahuan terstruktur ditinjau dari
kemampuan: verbal, menggunakan skema,
membuat strategi pemecahan masalah, dan
membuat algoritma.
Permasalahan yang timbul berdasarkan latar
belakang di atas adalah: Bagaimana profil
kesulitan belajar siswa SMA di kota Semarang
dalam barang Kelistrikan?
Kesulitan Belajar
Mata pelajaran Fisika menuntut
intelektualitas yang relatif tinggi. Keterampilan
berpikir sangat diperlukan ketika mempelajari
Fisika, di samping keterampilan berhitung,
memanipulasi dan observasi, serta keterampilan
merespon suatu masalah secara kritis (Mundilarto,
2002: 3-5). Sifat mata pelajaran Fisika salah
satunya adalah bersyarat, artinya setiap konsep
baru ada kalanya menuntut prasyarat pemahaman
atas konsep sebelumnya. Oleh karena itu bila
terjadi kesulitan belajar pada salah satu pokok
bahasan akan terbawa ke pokok bahasan
berikutnya, atau bila terjadi miskonsepsi akan
terbawa sampai janjang bimbingan berikutnya.
Kesulitan belajar tidak selalu disebabkan karena
faktor intelegensi yang rendah, tetapi juga oleh
faktor psikologi lain. Mengatasi kesulitan belajar
bukanlah sesuatu yang sederhana, tidak cukup
hanya dengan mengetahui taraf kecerdasan dengan
kemandirian siswa saja, tetapi perlu menyediakan
prasarana yang memadai untuk penanganan
remediasi. Penyelidikan-penyelidikan yang dapat
dilakukan untuk mengetahui kesulitan belajar
siswa, adalah dengan mengadakan observasi,
Ani Rusilowati, Profil Kesulitan Belajar Fisika+
101
interview, tes diagnostik, dan memanfaatkan
dokumentasi.
Pada penelitian ini penyelidikan terhadap
kesulitan belajar dilakukan dengan menggunakan
tes diagnostik yang telah dikembangkan
sebelumnya. Kesulitan dalam belajar Fisika dapat
diindikasi dari kemampuan siswa dalam
memahami konsep dan kemampuan berpikir
memecahkan masalah/soal. Kesalahan memahami
konsep timbul akibat kesalahan siswa dalam
mengkonstruk pengetahuannya. Moushivits &
Zaslavsky (1987: 3-14) mengemukakan bahwa
kesulitan belajar antara lain disebabkan oleh:
kesulitan bahasa, kesulitan memperoleh informasi
tentang keruangan, kesulitan penguasaan
keterampilan, fakta, dan konsep prasyarat,
kesulitan pada asosiasi, dengan kesulitan menerapkan
aturan atau strategi yang relevan. Depdiknas
(2002) menyatakan bahwa kesulitan belajar dapat
disebabkan oleh kelemahan siswa dalam:
menguasai pengetahuan prasyarat, memahami
konsep, mengoperasikan matematika,
menerjemahkan soal, merencanakan strategi
penyele-saian masalah dan menggunakan
algoritma untuk menyelesaikan soal.
Teknik diagnosis yang digunakan adalah
Analytic diagnosic. Teknik ini mendiagnosis letak
kelemahan dan kekuatan yang dimiliki siswa
ketika mempelajari materi Kelistrikan. Pendekatan
yang digunakan untuk mendiagnosis kesulitan
belajar mengikuti penghampiran yang ditetapkan oleh
Depdiknas (2002). Ada lima pendekatan yang
digunakan untuk menentukan kesulitan belajar,
yaitu pendekatan berdasarkan: tujuan
pembelajaran, profil materi, prasyarat
pengetahuan, miskonsepsi, dan pengetahuan
terstruktur. Pendekatan tujuan pembelajaran
digunakan untuk mendiagnosis kekalahan siswa
dalam mencapai tujuan pembelajaran tertentu.
Pendekatan profil materi bertujuan untuk
mengetahui materi yang sudah dan belum dikuasai
oleh siswa. Pendekatan prasyarat pengetahuan
digunakan untuk mendeteksi kegagalan siswa
dalam keadaan pengetahuan prasyarat untuk eka materi
pokok tertentu. Sebelum siswa memahami materi
pengetahuan baru, mereka harus memahami lebih
dahulu materi prasyarat, baik berhubungan dengan
materi secara vertikal maupun horisontal.
Pendekatan miskonsepsi digunakan untuk
mendiagnosis kegagalan siswa dalam hal
kesalahan konsep yang dimiliki siswa
(misconception). Pendekatan pengetahuan
terstruktur digunakan untuk mendiagnosis ketidak-
mampuan anak didik dalam memecahkan permasalahan
yang berstruktur.
Analisis mendalam terhadap kesulitan dalam
pengetahuan terstruktur dilakukan berdasarkan
ketetapan Depdiknas (2002: 33). Kesulitan
pengetahuan terstruktur dapat ditinjau dari
kemampuan: bahasa (verbal), menggunakan
skema, melahirkan strategi, dan melahirkan algoritma.
Kemampuan bahasa dapat diartikan sebagai
kemampuan menterjemahkan soal. Pada
kemampuan ini siswa dituntut untuk memberi
makna pertanyaan yang diajukan dalam soal.
Setiap siswa harus mampu memahami setiap
pertanyaan dari kata gerendel yang terdapat ala soal.
Kemampuan menggunakan skema
diartikan sebagai kemampuan memahami coret-coretan
atau prinsip yang dapat digunakan untuk
menyelesaian soal. Siswa dituntut untuk
menggunakan skema pengetahuan dalam
mengidentifikasi permasalahan. Siswa harus
mengetahui ajaran atau aturan yang diperlukan
untuk menyelesaikan soal.
Kemampuan membuat strategi dapat
diartikan sebagai kemampuan merencanakan
pemecahan masalah. Siswa layak membuat cara
atau langkah-langkah yang harus digunakan untuk
menyelesaikan soal. Kemampuan membuat
algoritma menekankan pada penyelesaian atau
pengerjaan soal. Siswa harus menggunakan
kemampuan matematik (berhitung) yang tepat
untuk boleh melaksanakan kesimpulan.
METODE PENELITIAN
Lokasi penelitian di kota Semarang.
Sampel penelitian adalah siswa SMA kelas X di
kota Semarang. Sampel ditentukan secara cluster
sampling menurut peringkat sekolah. SMA dan
jumlah sampel yang terpilih sebagai sampel dapat
dilihat ala Tabel 1.
Metode pengumpulan data dilakukan
dengan memberikan tes kepada subjek penelitian.
Alat pengumpul data berupa tes diagnostik Fisika
tentang Kelistrikan.
Teknik analisis data menggunakan gaya
analisis kualitatif, dibantu dengan paparan
kuantitatif berupa persentase.
Tabel 1. Sampel PenelitianberdasarkanPeringkatSekolah
Nama Sekolah Jumlah Sampel
SMAN 3 Semarang
SMAN 2 Semarang
40
40
SMAN 6 Semarang
SMA K
40
40
SMA P
SMA T U
28
26
Jumlah 214
Jurnal Pend. Fisika Indonesia Vol. 4, No. 2, Juli 2006 102
HASIL DAN PEMBAHASAN
Letak Kesulitan Belajar
Analisis profil kesulitan belajar dapat
dilihat dari duet sisi, yaitu beralaskan kekuatan
siswa dan kelemahan siswa. Rata-rata skor
dihitung menurut pendekatan diagnostik yang
digunakan. Profil kekuatan dengan kelemahan siswa
dilihat dari persentase pencapaian batas skor dari
setiap pendekatan diagnostik. Siswa dikatakan awet
apabila rata-rata persentase skor untuk setiap
pendekatan diagnostik sebesar 65% ataupun lebih. Bila
perolehan skor kurang dari 65%, maka siswa
dikatakan lemah.
Hasil pengurangan terhadap kekuatan dengan kelemahan
siswa pada materi Kelistrikan berdasarkan
pendekatan diagnostik, tujuan pembelajaran, dapat
dilihat ala Tabel 2. Hasil analisis berdasarkan
pendekatan tes diagnostik yang lain dapat dilihat
pada Tabel 3. Hasil-hasil ini merupakan analisis
secara umum, untuk mahasiswa SMA di metropolitan Semarang.
Hasil analisis terhadap persentase pencapaian
indikator pada materi Kelistrikan berdasarkan
peringkat sekolah bisa dilihat ala Tabel 4.
Berdasarkan buatan penjabaran tersebut dapat
dirinci lebih lanjut posisi kekuatan dan kelemahan
siswa dalam mencapai tujuan pembelajaran
Kelistrikan. Hasil analisis secara umum diperoleh
bahwa, hanya tiga dari 17 tujuan yang dapat
dicapai secara tuntas oleh siswa SMA di kota
Semarang. Tiga alamat tersebut merupakan belajar
dan memasang alat takar listrik; menentukan kuat
arus ala rangkaian bercabang, dan menggunakan
konsep susunan hambatan untuk menghitung
besaran pada rangkaian listrik. Empat belas tujuan
yang lain belum tuntas dicapai oleh siswa. Jadi
pencapaian tujuan secara umum hanya 18%. Bila
ditinjau bohlam kelas sekolah, tujuan pembelajaran
yang dicapai bagi siswa dari madrasah peringkat I
adalah 83%. Sekolah peringkat II dapat mencapai
68% tujuan pembelajaran dengan tuntas. Sekolah
peringkat III tidak dapat mencapai satu tujuan
pembelajaranpun.
Kelemahan sekolah peringkat I terletak
pada pencapaian tujuan pembelajaran:
menggunakan Voltmeter dan Amperemeter dalam
rangkaian; dan memahami Hukum Kirchoff II,
untuk 2 loop. Sekolah peringkat II lemah atas
pencapaian alamat pembelajaran: Membaca dan
Pendekatan
Diagnostik
Tinjauan Pembelajaran Persentase
Pencapaian
Kategori
Tujuan
Pembelajaran
1. Membaca dan melekatkan alat takar setrum
2. Menggunakan Voltmeter dengan Amperemeter pada rangkaian
3. Merancang penggunaan gawai ukur di rangkaian,
ditunjukkan dengan gambar
4. Memahami kuat cucuran setrum
5. Menjelaskan akan asas Ohm
6. Menjelaskan kesebandingan perubahan kuat cucuran terhadap
hambatan dan gap terpendam
7. Menjelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi aral
8. Menjelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi memasung macam
suatu imam
9. Menghitung besarnya batu ganjalan penghatar
10. Menentukan kuat cucuran ala deretan bercagak
11. Menghitung batu ganjalan pengganti lembaran hambatan
12. Menggunakan konsep lapisan batu ganjalan untuk menghitung
besaran atas rangkaian elektrik
13. Memahami Hukum Kirchof II, untuk 1 loop
14. Memahami Hukum Kirchof II, untuk 2 loop
15. Menjelaskan tentang daya dengan daya setrum
16. Menyelesaikan soal-soal aplikasi energi dan kapabilitas elektrik
17. Memahami Transformator
70%
16%
46%
43%
26%
6%
37%
18%
56%
69%
40%
71%
41%
40%
35%
39%
28%
Tabel 2. Hasil Analisis Secara Umum Kekuatan dengan Kelemahan Siswa
Terhadap Meteri
n Berdasarkan Pendekatan Tujuan Pembelajaran
Ani Rusilowati, Profil Kesulitan Belajar Fisika+
103
memasang alat ukur listrik; menggunakan
Voltmeter dan Amperemeter dalam rangkaian;
merancang penggunaan instrumen ukur dalam rangkaian,
ditunjukkan dengan gambar; memahami Hukum
Kirchof II, untuk 2 loop; dan menyelesaikan soal-
soal aplikasi energi dan daya listrik. Sekolah
peringkat III benyai di sarwa arah pembelajaran.
Hasil analisis berdasarkan profil materi
secara umum diperoleh bahwa tiga dari 9 sub
pokok bahasan menebak dikuasai oleh siswa SMA di
kota Semarang. Sub pokok kayu bahasan tersebut ialah
Alat Ukur Listrik, Hukum Kirchoff I, dengan Susunan
Hambatan. Jadi sub pokok debat yang
telah dikuasai siswa sebanyak 33 %. Bila ditinjau
berdasarkan peringkat sekolah, peringkai I telah
menguasai semua (100%) materi Kelistrikan.
Untuk sekolah peringat II baru menguasai 56%
dari materi Kelistrikan yang ada. Materi yang
belum dikuasai adalah: Kuat Arus Listrik, Hukum
Kirchoff II, Energi & Daya Listrik, dan
Transformator. Untuk I kampus peringkat III seantero
materi Kelistrikan belum dikuasai.
Hasil analisis berdasarkan pengetahuan
prasyarat, secara umum siswa SMA di kota
Semarang telah menguasai 2 dari 4 materi
pengetahuan prasyarat. Dua materi tersebut adalah
Hukum Kirchoff I dan Susunan Hambatan.
Penguasaan ilmu mengharuskan hitung panjang aktual
25%. Bila ditinjau berdasarkan peringkat sekolah,
peringkat I telah menguasai pengetahuan pembatasan
sebayak 50%. Pengetahuan prasyarat yang belum
dikuasai adalah Susunan Hambatan, dan Hukum
Kirchof II. Untuk sekolah peringkat II baru
menguasai pengetahuan prasyarat 25%, materi
yang belum dikuasai adalah Hukum Kirchoff I,
Susunan Hambatan, dan Hukum Kirchof II. Untuk
sekolah peringkat III, semua pengetahuan
prasyarat belum dikuasai.
Pendekatan
Diagnostik Materi Persentase
Pencapaian Kategori
Profil Materi Alat Ukur Listrik
Kuat Arus Listrik
Hukum Ohm
Hambatan Penghantar
Hukum Kirchoff I
Susunan Hambatan
Hukum Kirchoff II
Energi & Daya Listrik
Transformator
65%
37%
57%
25%
68%
71%
50%
42%
37%
Kuat
Lemah
Lemah
Lemah
Kuat
Kuat
Lemah
Lemah
Lemah
Prasyarat
Pengetahuan
Hukum Kirchoff I
Susunan Hambatan
Hukum Ohm
Hukum Kirchoff II
68%
75%
58%
50%
Kuat
Kuat
Lemah
Lemah
Miskonsepsi Hukum Ohm
Hambatan Penghantar
67%
38%
Kuat
Lemah
Pengetahuan
Terstruktur
Alat Ukur Listrik
Hambatan Penghantar
Susunan Hambatan
Hukum Kirchoff II
46%
18%
40%
40%
Lemah
Lemah
Lemah
Lemah
Tabel 3. Hasil Analisis Secara Umum Kekuatan dan Kelemahan Siswa Terhadap
Tabel 4. Persentase Pencapaian indeks Berdasarkan Pendekatan diagnostik Menurut
Pendekatan Diagnostik Persenatase Pencapaian dari Peringkat:
I II III
Tujuan Pembelajaran 83% 68% 0%
Profil Materi 100% 56% 0%
Prasyarat Pengetahuan 50% 25% 0%
Miskonsepsi 100% 70% 40%
Pengetahuan Terstruktur 100% 60% 0%
Jurnal Pend. Fisika Indonesia Vol. 4, No. 2, Juli 2006 104
Hasil analisis berdasarkan pendekatan
miskonsepsi, secara umum miskonsepsi siswa
terjadi pada sebagaian dari sub pokok bahasan
Hukum Ohm sebesar 30%, dan Hambatan
penghantar sebesar 50%. Bila ditinjau per
peringkat sekolah, peringkat I tidak mengalami
miskonsepsi. Siswa SMA peringkat II mengalami
miskonsepsi sebanyak 30% dari materi, dan
peringkat III mengalami miskonsepsi sebanyak
60% dari materi yang ada. Miskonsepsi berlaku
pada penentuan grafik hubungan antara hambat
jenis penghantar dengan panjang kawat atau
dengan luas penampang. Siswa jua menganggap
bahwa besar hambat model imam akan berubah
jika panjang dengan bambang penampangnya berubah.
Hasil analisis menurut umum membuktikan
bahwa rata-rata siswa SMA di kota Semarang
belum tuntas dalam menyelesaikan masalah
dengan pengetahuan terstruktur. Bila ditinjau per
peringkat sekolah, ketuntasan 100% dimiliki oleh
siswa dari madrasah kelas I. Sekolah kaliber II
ketuntasannya sekadar 60%, dengan kelas III tak
ada yang tuntas. Kelemahan yang dialami oleh
siswa dari madrasah kelas II atas sub pokok
bahasan Hukum Kirchof II, dengan Energi & Daya
Listrik.
Berdasarkan analisis di atas dapat
disimpulkan bahawa kesulitan belajar dapat
diungkap dengan lima penghampiran diagnostik adalah
tujuan pembelajaran, profil materi, pengetahuan
prasyarat, miskonsepsi, dan pengetahuan
terstruktur. Hasil penjabaran terhadap kepelikan belajar
dapat disimpulkan bahwa siswa SMA di kota
Semarang masih mengalami kesulitan belajar
Fisika materi kelistrikan, terlebih untuk SMA
peringkat III. Bagi siswa dari sekolah peringkat I
sebenarnya sudah tidak mengalami kesulitan
belajar Fisika materi Kelistrikan. Hal ini boleh
dilihat dari perolehan hasil ketuntasan di setiap
pendekatan diagnostik yang digunakan.
SMA peringkat II masih mengalami
sedikit kesulitan. Sebagian materi kelistrikan
belum dikuasai dengan baik, yaitu sub pokok
bahasan: Susunan hambatan, Hukum Kirchof II,
Energi & Daya Listrik, dan Tranformator. Di
samping itu, siswa masih mengalami miskonsepsi
pada sebagian materi Hukum Ohm dengan Susunan
Hambatan. Penguasaan ilmu pembatasan lagi
masih lemah. Pengetahuan terstruktur masih benyai
di sub pokok bahasan Hukum Kirchof II dan
Energi & Daya Listrik.
SMA peringkat III sangat mengalami
kesulitan belajar Fisika. Hal ini dapat dilihat dari
hasil analisis di setiap pendekatan diagnostik.
Hampir semua pendekatan membuktikan bahwa
ketercapaian arah pembelajaran tak ada yang
tuntas, kesulitan di seluruh profil materi,
pengetahuan prasyaratnya rendah, masih
mengalami miskonsepsi, dan tidak ada
pengetahuan runtut yang dikuasai.
Penyebab Kesulitan Belajar Fisika
Di samping ditinjau dari pendekatan
diagnostik, kepelikan belajar Fisika boleh dianalisis
dari pola jawaban salah yang dilakukan oleh siswa,
dan analisis mendalam terhadap pengetahuan
terstruktur yang dimiliki siswa. Pada soal pilihan
ganda dari tes diagnostik Fisika, penentuan option
jawaban salah sudah dirancang sedemikian
sehingga dapat digunakan untuk mengungkap
kesalahan siswa. Kesalahan yang dapat diungkap
adalah pemahaman konsep, kemampuan
matematis, dan kemampuan mengkonversi satuan.
Pada Tabel 5 dipaparkan kadar jawaban untuk
mengungkap penyebab kesulitan belajar Fisika
siswa SMA di metropolis Semarang.
Tabel 5. Penyebab Kesuliatan Belajar Fisika
Berdasarkan analisis reaksi Siswa SMA di
Kota Semarang
Penyebab Kesulitan
Belajar
Persentase balasan
Salah Benar
Pemahaman Konsep 40.63% 59.37%
Penghitungan Matematis 40.50% 59.50%
Mengkonversi barisan 46.88% 53.12%
Persentase jawaban untuk mengungkap penyebab
kesulitan belajar menurut peringkat Sekolah dapat
dilihat pada Tabel 6.
Hasil analisis menunjukkan bahwa secara
umum anak didik SMA di kota Semarang lemah dalam
penguasaan konsep, kemampuan matematis, dan
mengkonversi satuan. Siswa yang lemah dalam
penguasaan konsep sebanyak 49,63%. Siswa yang
lemah dalam kemampuan matematis sebanyak
40,5% dan yang bermasalah dengan konversi
satuan sebesar 46,8%.
Bila ditinjau per peringkat sekolah, maka
hasil analisis dapat diuraikan sebagai berikut:
peringkat I, anak didik yang arung kesulitan di
penguasaan konsep dan mengkonversi satuan
masing-masing sebanyak 12,5%, sedangkan yang
mengalami kesulitan dalam daya matematis
hanya 4,8%. Bagi peringkat II, yang mengalami
kesulitan dalam penguasaan konsep sebanyak
32,5%; kapabilitas matematis sebanyak 38,1%;
dan kemampuan mengkonversi satuan sebesar
50%. Bagi peringkat III, lebih dari 75% anak didik
mengalami kesulitan baik dalam penguasaan
konsep, kemampuan matematis, maupun
mengkonversi satuan.
Based on previous research, the student had many misconceptions occurred in dynamic electrical material so the researcher developed interactive ebook of dynamic electrical material which was integrated with PhET simulation software to reduce misconception on that material. The purposes of this study are: (1) Describe the validity of an interactive ebook based on expert assessment in terms of material, media, and language and three physics teachers; (2) Describe the effectiveness of interactive ebook based on the decrease of student misconception after learning with developed ebook; and (3) Describe the practicality of the ebook based on the student response questionnaire. The method used in ebook development refers to the Instructional Design Strategy developed by Moore & Kearsley with the sequence: Analysis, Design, Development, Implementation, and Evaluations. The results of this study are: (1) Development of an interactive ebook is in a very decent category in terms of validity from expert assessment on material, media, and language ebook and three physics teachers; (2) The effectiveness of interactive ebook is in the effective category, it could reduce student misconceptions on dynamic electrical materials effectively; and (3) The developed ebook are very practical to use, responses of students were positively
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pemahaman corat-coret mahasiswa ala poin aral setrum kawat penghantar. Permasalahan yang disajikan ala penelitian ini terdiri dari catur soal pilihan ganda yang melambangkan bagian dari 23 bab pemahaman coret-coretan siswa ala coret-coretan listrik dinamis. Penelitian dilakukan akan 32 mahasiswa tahun pertama S1 Pendidikan Fisika Universitas Negeri Jember. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemahaman konsep siswa atas pokok aral elektrik kawat penghantar masih tergolong rendah. Hal ini ditandai dengan tidak adanya siswa yang mampu menjawab keempat pertanyaan dengan benar. Temuan akan keadaan apresiasi konsep siswa ala topik aral elektrik benang besi imam yaitu, (1) siswa memegang pemahaman yang cacat tentang Hukum Ohm, (2) mahasiswa sedang minim mahir besaran yang merajai angka aral listrik, (3) siswa rendah memahami ikatan jari-jari penampang dengan nilai batu ganjalan listrik, dengan (4) mahasiswa cecap kesulitan pada perhitungan matematis.
This research aims to produce an instrument test of problem-solving skills that are absah and have high reliability. This research is a research and development conducted using four stages of ADDIE model. Instrument validation includes expert validation and empirical validation. The results of expert validation indicate that overall the test instrument is in good category. Empirical validation results show that seven questions are valid with a reliability coefficient of 0.67. The implementation of test instruments is carried out to measure problem-solving skills. The measurement results show that the average score of students' problem-solving skills is 32 (SD = 16.9) with the highest score of 94 and the lowest 11 with a scale of 0—100. Abstrak: Penelitian ini bertujuan menghasilkan alat eksperimen kapabilitas jalan lepas hal yang absah dengan memiliki reabilitas tinggi. Penelitian ini melambangkan penelitian dan pengembangan yang dilakukan dengan memanfaatkan empat hierarki acuan ADDIE. Validasi instrumen, melingkupi konfirmasi bernas dengan konfirmasi empirik. Hasil justifikasi andal memberitahukan bahwa secara keseluruhan instrumen eksamen mendapat kategori baik. Hasil konfirmasi empirik menunjukkan bahwa tujuh pertanyaan aci dengan koefisien keterjaminan sejumlah 0,67. Implementasi gawai tes dilakukan untuk mengukur kemampuan jalan lepas masalah. Hasil pengukuran menunjukkan bahwa biji pada umumnya kemampuan pemecahan masalah siswa sebesar 32 (SD= 16,9) dengan nilai tertinggi 94 dengan terendah 11 dengan perbandingan 0—100.
p>Penelitian ini bertujuan untuk memafhumi (1) aspek faktor yang merajai kerumitan belajar pada anak didik SMP; (2) menganalisis kaitan kepelikan belajar akan biji eksamen nasional. Analisis bahan dilakukan menurut deskriptif, bukti yang diperoleh dalam penelitian ini berupa data produk belajar anak didik dengan hasil pengisian angket. Hasil dari analisis tersebut didapatkan anasir faktor lantaran kepelikan belajar IPA siswa SMP di Kota Semarang meliputi aspek internal dan faktor eksternal. Faktor kepelikan belajar dari faktor intern anak didik berupa bagian bakat, minat, motivasi dan intelegensi. Sedangkan aspek eksternal mahasiswa berupa fasilitas sekolah, guru, aparat fasilitas dan aktivitas siswa. Hasil analisis juga membuktikan bahwa adanya anasir kesulitan belajar IPA di madrasah berkaitan terhadap buatan biji cobaan nasional. Besarnya presentase rembesan bahan IPA ala cobaan dalam negeri jua cocok dengan besarnya biji presentase kesulitan belajar yang dialami bagi madrasah tersebut.</p
Abstrak: Tujuan penelitian ini merupakan untuk melihat kerumitan belajar dengan pencapaian produk belajar siswa SMA pada materi elastisitas bahan. Penelitian ini melahirkan eksplorasi deskritif dengan sampel kelas XI IPA Negeri 5 Ambon. Data analisis kepelikan belajar terdapat dengan angket, sedangkan data pendapatan buatan belajar diperoleh dari biji formatif dengan proses yang melingkungi nilai kognitif, afektif, dengan psikomotor. Data dianalisis dengan gaya statistik deskriptif. Hasil investigasi menunjukkan bahwa semasa proses penataran terdapat empat model kesulitan, adalah kesulitan pada menguasai konsep, melilitkan ikatan antara konsep, memegang tampuk rumus, dengan mengoperasikan memendekkan saat menyelesaikan soal. Sebelum menggunakan desain inkuiri, kapabilitas anak didik memegang tampuk konsep antara 69,2-82,3%. Setelah penggunaan strategi inkuiri, kapabilitas anak didik beranjak menjadi 90,8%. Kemampuan melilitkan antarkonsep meningkat menjadi 89,2%. Kemampuan memegang tampuk meringkaskan 87,1%, dan kapabilitas melayani rumus untuk penyelesaian pertanyaan 91,3%. Peningkatan hasil belajar juga terjadi atas coret-coretan elastisitas bahan. Strategi pembelajaran inkuri boleh melampaui kesulitan belajar mahasiswa 4 dan dapat mendapatkan hasil belajarnya pada bahan fleksibilitas bahan. Kata Kunci: strategi pembelajaran inkuiri, kesulitan belajar, dan pendapatan produk belajar ANALYSIS OF STUDENTS’ LEARNING DIFFICULTIES AND ACHIEVEMENT IN THE IMPLEMENTATION OF INQUIRY LEARNING Abstract: The purpose of this study is to revealstudents’ learning difficulties and achievement in learning the concepts of material elasticityin class XI SMA. This research belongs to descriptive study done to a sample of class XI IPA4 Negeri 5 Ambon with the total of 39 students. Learning difficultiesdata were obtained through questionnaires before and after the implementation of inquiry learning, while achievement bahan were obtained from the formative and process values that includes cognitive (student worksheet), affective, and psychomotor aspects duringthe learning activities. The results show that during the process of learning physics in particular on the concept of material elasticity, there are four types of difficulties experienced by students, i.e. difficulty in mastering the concepts, difficulty in establishing links betweenconcepts, difficulty in mastering formulas, and difficulty in operating formulas for solving problems. The results showthat students’ ability to eksper the concepts ranges 69.2 to 82.3% before applying the inquiry strategy and reaches 90.8% after using the strategy. The ability to link concepts increases to 89.2%. The ability to eksper the formula reaches 87.1%, and the ability to operate formulas for solving problemsis about 91.3%. The learning outcomes are also improving. Thus, it can be concluded that inqury learning strategies can address students’ learning difficulties and can help students achieve better results in learning material elasticity concept. Keywords: inquiry learning strategies, learning difficult, and learning outcomes
Diagnosis Kesulitan Belajar Fisika Siswa SD, SMP dengan SMA dengan gaya general diagnostic dan analytic diagnostik
Ani Rusilowati. (2007). Diagnosis Kesulitan Belajar Fisika Siswa SD, SMP dengan SMA dengan teknik general diagnostic dan analytic diagnostik. Prosiding Seminar Nasional 25 Agustus 2007. ISBN: 978-979-99314-2-9. Yogyakarta: UNY. Depdiknas. (2002). Pedoman pengembangan tes diagnostik matematika SLTP. Jakarta: Ditjen Dikdasmen Depdiknas.
An empirical classification model for error in hight school mathematics
Movshovits, N. & Zastavsky, D. (1989). An empirical classification ala for error in hight school mathematics. Journal for Research in Mathematics Education 18, 3-14.
Kapita Selekta Pendidikan Fisika. Yogyakarta: FMIPA Universitas Negeri Yogyakarta
Mundilarto. 2002. Kapita Selekta Pendidikan Fisika. Yogyakarta: FMIPA Universitas Negeri Yogyakarta.
Pembuatan Tes Diagnostik Fisika Pokok Bahasan Listrik Statis
Murni Tuk Nugroho. (2004). Pembuatan Tes Diagnostik Fisika Pokok Bahasan Listrik Statis. Skripsi. Tidak diterbitkan.
The effects of diagnostic prescriptive instruction on learning has been the focus of many studies. The purpose of this article is to review and analyze the results of experimental studies based on diagnostic prescriptive instruction aksis it effects science achievement. Meta-analysis techniques were used to condense and synthesize the results of a multiple babak of empirical studies into an interpretable form. The statistic calculated is referred to gandar “effect size.” This value is based upon the group means and standard deviations established from reported data of each individual study. An ERIC search identified a body of studies which examined a habis-habis-an of 30 dependent variables. Subjects used in the combined studies numbered over 500 college, high school, and middle school students. From this information an effect size was calculated on each dependent variable. Data were organized by categorizing all treatments into one of three types: (1) control, no diagnosis and no prescription: (2) Treatment I, analisis and no prescription: or (3) Treatment II, diagnosis and prescription or remediation. A mean effect size was then calculated for each treatment type. The results indicated that diagnostic prescriptive instruction significantly and positively influences science achievement. But there is no clear indication from the body of research that the use of prescription or remediation in addition to pemeriksaan brings about a significant additional increase in achievement.
Sekian detil tentang (PDF) PROFIL KESULITAN BELAJAR FISIKA POKOK BAHASAN KELISTRIKAN SISWA SMA DI KOTA SEMARANG semoga tulisan ini menambah anggapan pikiran peroleh sambut kasih
Artikel ini diposting atas tag belajar kelistrikan, belajar kelistrikan gedung, belajar kelistrikan rumah, , tanggal 19-07-2019, di kutip dari https://www.researchgate.net/publication/307836649_PROFIL_KESULITAN_BELAJAR_FISIKA_POKOK_BAHASAN_KELISTRIKAN_SISWA_SMA_DI_KOTA_SEMARANG

Comments
Post a Comment