Kementan Pacu Pengembangan Sentra Tanaman Hias Di Tawangmangu Sentra Tanaman Hias

Hohoho, bertemu kembali, atas kali ini akan membahas mengenai sentra pendaman memanjang Kementan pacu ekspansi sentra tanaman hias di Tawangmangu simak selengkapnya
/data/photo/2019/04/19/4025786590.jpeg)
Lokasi desa ini amat strategis, alun-alun adiluhung dan daerah tujuan wisata. Desa Nglurah jadi sentral tanaman memanjang dengan 130 jenis pohon jarak lain antorium, krisan anggrek, pakis, kaktus dengan bonsai
![]()
Jakarta (ANTARA) - Kementerian Pertanian terus memburu-buru kenaikan produksi komoditas pertanian pohon hias, khususnya di Tawangmangu, Jawa Tengah, yang memiliki 130 model pendaman dengan potensi pasar ekspor yang terbuka lebar.
Direktur Jenderal Hortikultura Kementan Suwandi membeberkan Indonesia sangat kaya akan dagangan pendaman mempercantik dengan ribuan macam varietas yang tersebar di berbagai daerah, salah satunya yang tengah dikembangkan di Desa Nglurah, Kecamatan Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah.
"Lokasi desa ini amat strategis, alun-alun agung dan alun-alun tujuan wisata. Desa Nglurah menjadi sentra pendaman hias dengan 130 macam pohon celah lain antorium, krisan anggrek, pakis, kaktus dan bonsai," kata Suwandi detik meninjau budidaya tanaman hias di Desa Nglurah, Jumat.
Suwandi menyebutkan Kementan engat saat ini terus mendorong sentra-sentra pendaman hias sejenis di daerah lain agar produksi dan volume ekspor semakin berkembang setiap tahunnya. Tanaman mempercantik biasanya tumbuh subur di dataran tinggi, seperti di Brastagi, Solok, Lembang, Tawangmangu dengan Batu, Malang.
Dalam giliran yang sama, Kepala Dinas Pertanian dengan Pangan Kabupaten Karanganyar, Supramnaryo menuturkan budidaya pohon memanjang di Desa Nglurah Kecamatan Tawangmangu Kabupaten Karanganyar ini melibatkan 850 kepala keluarga (KK) di 14 Rukun Tetangga (RT). Tanaman mempercantik yang dikembangkan cukup banyak yakni 80 jenis.
Supramnaryo menjelaskan berbagai macam pohon memanjang dipasok ke berbagai wilayah Indonesia serta melibatkan 850 pedagang dan dipasarkan langsung ke hotel-hotel beserta pelaku usaha dekorasi.
"Harga pohon mempercantik di daerah ini bervariasi, yakni tergantung jenisnya, ada Rp2.000 engat Rp500.000 per pot. Petani pun menjualnya dalam bangun ikat," katanya.
Salah seorang petani pendaman mempercantik dari Kelompok Tani Taman Sari Desa Nglurah, Wagimin, mengatakan dirinya sudah lama menggeluti budidaya tanaman mempercantik yang jenisnya pun bermacam-macam.
"Hingga detik ini, budidaya pohon memanjang di alun-alun Tawangmangu ini sangat prospektif akibat permintaan pasar dalam negeri saja semakin meningkat," kata dia
Sementara itu, orang tani bunga krisan di Desa Lebak Tawangmangu, Heru, mengatakan sudah 8 tahun bertani tanaman memanjang krisan mencapai 10 model bunga krisan. Setiap minggunya, Heru bisa memanen 250 ikat, bahkan perhari pernah 100 ikat. Harga bunga krisan sebesad Rp 25.000 per ikat.
"Pasar tidak ada masalah atas pedagang datang ke sini rutin, di antaranya untuk dekorasi. Usaha dekorasi sekarang sudah menggunakan bunga khalis semua. Ini yang membuat permintaan tinggi," bicara Heru.
Ada pun kawasan pertanian di Tawangmangu ini tidak hanya menjadi sentra budidaya tanaman hias, tetapi juga sentra budidaya sayuran organik, seperti pockcay, capri dan seledri.
Baca juga: Anggrek dan pohon hias lainnya masih jadi buruan
Baca juga: Sumbar berpotensi kembangkan pohon hias
Baca juga: Sampah popok bayi sebagai media pohon memanjang wakili Yogyakarta
Budidaya Aglaonema untuk kebutuhan dalam negeri
Pewarta: Mentari Dwi Gayati
Editor: Agus Salim
COPYRIGHT © ANTARA 2019
begitulah detil tentang Kementan pacu ekspansi sentral tanaman mempercantik di Tawangmangu semoga tulisan ini berfaedah terima kasih
tulisan ini diposting ala label sentra pendaman hias, sentra tanaman mempercantik lembang, sentra pohon mempercantik makassar kota makassar sulawesi selatan 90224, , tanggal 07-07-2019, di kutip dari https://www.antaranews.com/berita/837291/kementan-pacu-pengembangan-sentra-tanaman-hias-di-tawangmangu
Comments
Post a Comment